Cari Blog Ini

Jumat, 14 Oktober 2011

Askep Kelebihan Volume Cairan


Askep Kelebihan Volume Cairan



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Gangguan volume cairan dalah suatu keadaan ketika individu beresiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat dari satu kelainan cairan intravaskuler, interstisial dan intraseluler. (Carpenito, 2000). Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. (Carpenito, 2000). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan cairan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup.
B. Rumusan Masalah
- Menjelaskan pengertian Kelebihan Volume Cairan
- Menjelaskan Etiologi Kelebihan Volume Cairan
- Menjelaskan patofisiologi Kelebihan Volume Cairan
- Menjelaskan tanda dan gejala Kelebihan Volume Cairan
- Menjelaskan komplikasi Kelebihan Volume Cairan
- Menjelaskan asuhan keperawatan Kelebihan Volume Cairan

C. Tujuan
- Mengetahui pengertian Kelebihan Volume Cairan
- Mengetahui Etiologi Kelebihan Volume Cairan
- Mengetahui patofisiologi Kelebihan Volume Cairan
- Mengetahui tanda dan gejala Kelebihan Volume Cairan
- Mengetahui komplikasi Kelebihan Volume Cairan
- Mengetahui asuhan keperawatan Kelebihan Volume Cairan









BAB II
HIPERVOLEMIA (Kelebihan Volume Cairan)
A. Pengertian
Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. (Carpenito, 2000). Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonok dari CES yang disebabkan oleh retensi air dan natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana mereka secara normal berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total. (Brunner & Suddarth. 2002).

B. Etiologi
Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan.
Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat kecil. Minum air dalam jumlah yang sangat banyak biasanya tidak menyebabkan overhidrasi jika kelenjar hipofisa, ginjal dan jantung berfungsi secara normal. Overhidrasi lebih sering terjadi pada orang-orang yang ginjalnya tidak membuang cairan secara normal, misalnya pada penderita penyakit jantung, ginjal atau hati. Orang-orang tersebut harus membatasi jumlah air yang mereka minum dan jumlah garam yang mereka makan.
Hipervolemia ini dapat terjadi jika terdapat :
1) Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air.
2) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
3) Kelebihan pemberian cairan intra vena (IV).
4) Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

C.Patofisiologi
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir selalu disebabkan oleh peningkatan jumlah natrium dalam serum. Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan / adanya gangguan mekanisme homeostatis pada proses regulasi keseimbangan cairan.

D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan hipervolemia antara lain : sesak nafas, ortopnea. Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hiperlemia adalah berupa pelepasan Peptida Natriuretik Atrium (PNA), menimbulkan peningkatan filtrasi dan ekskresi natrium dan air oleh ginjal dan penurunan pelepasan aldosteron dan ADH. Abnormalitas pada homeostatisis elektrolit, keseimbangan asam-basa dan osmolalitas sering menyertai hipervolemia. Hipervolemia dapat menimbulkan gagal jantung dan edema pulmuner, khususnya pada pasien dengan disfungsi kardiovaskuler

E.Komplikasi
Akibat lanjut dari kelebihan volume cairan adalah :
1. Gagal ginjal, akut atau kronik
2. Berhubungan dengan peningkatan preload, penurunan kontraktilitas, dan penurunan curah jantung
3. Infark miokard
4. Gagal jantung kongestif
5. Gagal jantung kiri
6. Penyakit katup
7. Takikardi/aritmia Berhubungan dengan hipertensi porta, tekanan osmotik koloid plasma rendah, etensi natrium
8. Penyakit hepar : Sirosis, Asites, Kanker
9. Berhubungan dengan kerusakan arus balik vena
10. Varikose vena
11. Penyakit vaskuler perifer
12. Flebitis kronis





F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Fisik
Oedema, peningkatan berat badan, peningkatan TD (penurunan TD saat jantung gagal) nadi kuat, asites, krekles (rales). Ronkhi, mengi, distensi vena leher, kulit lembab, takikardia, irama galop
2. Protein rendah
3. Anemia
4. Retensi air yang berlebihan
5. Peningkatan natrium dalam urine

G. Penatalaksanaan Medis
Tujuan terapi adalah mengatasi masalah pencetus dan mengembalikan CES pada normal. Tindakan dapat berupa hal berikut :
1) Pembatasan natrium dan air.
2) Diuretik.
3) Dialisi atau hemofiltrasi arteriovena kontinue : pada gagal ginjal atau kelebihan beban cairan yang mengancam hidup.
H. Pedoman Penyuluhan Keluarga
Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut:
1) Tanda dan gejala hipervolemia.
2) Gejala-gejala yang memerlukan pemberitahuan dokter setelah pulang dari rumah sakit; sesak nafas, nyeri dada, ketidakteraturan nadi baru.
3) Diet rendah garam, bila diprogramkan; gunakan pengganti garam; dan hindari makanan yang mengandung natrium tinggi.
4) Obat-obatan : termasuk nama, tujuan, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan potensial efek samping; tanda dan gejala hipokalemia bila pasien menggunakan diuretik.
5) Pentingnya pembatasan cairan bila hipervolemia berlanjut.
6) Pentingnya penimbangan berat badan setiap hari.





I. Asuhan Keperawatan
DOMAIN 2 : NUTRISI
Kelas :
1) Pengkajian
- Data Subjektif
a) Kaji batasan karakteristik
1. Riwayat gejala
Adanya keluhan :
 Napas pendek
§
 Penambahan berat badan
§
 Awitan/durasi
§
 Lokasi
§
 Gambaran
§
 Kelemahan/keletihan
§
 Edema
§

b) Kaji faktor-faktor yang berhubungan

(1) Riwayat faktor-faktor penyebab dan penunjang
 Riwayat diabetes pada keluarga atau perorangan
§
 Kehamilan
§
 Awal menstruasi
§
 Penyakit jantung atau gagal ginjal
§
 Penyakit hati
§
 Alkoholik
§
 Hiper atau hipertiroidisme
§
 Terapi steroid
§
 Malnutrisi
§
 Masukan garam berlebihan
§
 Penggunaan enema air hangat yang berlebihan
§
 Obstruksi limfatik
§
 Penggantian cairan yang berlebihan
§

(2) Masukan nutrisi
 Perkiraan masukan protein (adekuat/tak adekuat)
§
 Perkiraan masukan kalori (adekuat/tak adekuat/kelebihan)
§
 Perkiraan masukan cairan (adekuat/tak adekuat/kelebihan)
§
 Konsumsi alcohol setiap hari (jenis dan jumlah)
§
 Masukan dan haluaran dalam 24-72 jam
§

Data Objektif

 Nadi (kuat atau tidak teratur).
§
 Pernapasan : frekuensi (takipnea), kualitas dangkal, bunyi paru ronki, tekanan darah meningkat.
§
§ Edema : Tekan ibu jari paling sedikit 5 detik, catat sisa sisa lekukannya. Catat derajat dan lokasi (kaki, tumit, tangan, sacrum, keseluruhan secara umum).
 Penambahan berat badan
§
 Distensi
§ vena leher (distensi vena setinggi 45 derajat mungkin ada indikasi terjadinya kelebihan cairan atau berkurangnya curah jantung.

2) Diagnosa Keperawatan
Pengertian:
Kelebihan volume cairan adalah Kondisi ketika individu mengalami atau beresiko mengalami kelebihan beban cairan intraseluler atau interstisial.

Batasan karakteristik :

 Peningkatan be
Ørat badan cepat
 Intake lebih banyak dari output
Ø
 Perubahan tekanan darah, tekanan arteri pulmonal, peningkatan tekananvena sentral (CVP)
Ø
 Edema,dapat berkambang ke anasarka
Ø
 Distensi vena jugularis
Ø
 Perubahan pola respirasi, dispnea, napas pendek, ortopnea, suara abnormal : rales atau crakles, kongesti paru, efusi fleura .
Ø
 Penurunan Hb dan hemato krit, gangguan elekrolit, khususnya berat jenis.
Ø
 Bunyi jantung
Ø
 Reflek hepatojugular positif
Ø
 Oliguria, azotemia
Ø
 Perubahan status mental, gelisah cemas
Ø


Faktor Yang Berhubungan :

 Mekanisme pengaturan melemah
Ø
 Kelebihan intake cairan
Ø
 Kelebihan intake sodium
Ø


3) NOC
Kelebihan volume cairan
Definisi: peningkatan retensi cairan isotonik
1. Keseimbangan cairan
2. Keparahan Kelebihan cairan
3. Fungsi ginjal
4. Status pernafasan
5. Tanda-tanda vital
6. Berat: massa tubuh
1. Cardiopulmonary status
Definisi: kecukupan volume darah dikeluarkan dari, ventrikel dan pertukaran karbon dioksida dan oksigen pada tingkat alveolar.
Indikator :

• Tekanan darah sistolik
• Tekanan darah diastolik
• Irama jantung
• Status pernapasan
• Irama pernapasan
• Kedalaman inspirasi
• Sianosis
• Memerah
• Diaphoresis


2. Keseimbangan cairan
Definisi: balence air dalam kompartemen intraselular dan ekstraselular tubuh
Indikator :

• Tekanan darah
• 24-jam asupan dan keluaran keseimbangan
• Berat badan stabil
• Turgor kulit
• Selaput lendir basah
• Serum elektrolit
• Hematokrit


3. Hipotensi ortostatik
Indikator :

• Bunyi napas Adventitious
• Asites
• Urat leher destention
• Peripheral edema
• Lembut, bola mata cekung
• Kebingungan
• Haus
• Kram otot
• Pusing


4. Kelebihan cairan keparahan
Definisi: keparahan kelebihan cairan di dalam kompartemen intraselular dan ekstraselular tubuh
Indikator :

• Tangan edema
• Sakralis edema
• Kaki edema
• Malaise
• Kejang
• Koma
• Peningkatan tekanan darah
• Urin menurun


5. Fungsi ginjal
Definisi: filtrasi darah dan penghapusan limbah metabolik produk melalui pembentukan urin
Indikator :

• Serum kreatinin
• Urine bobot
• Warna Urine
• Urine protein
• Urine PH
• Urine elctrolytes
• Arteri bikarbonat (HCO 3)
• PH arteri
• Serum elektrolit


6. Status pernafasan
Definisi: pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru dan pertukaran karbon dioksida dan oksigen pada tingkat alveolar.
Indikator :
• Status pernapasan
• Irama pernapasan
• Kedalaman inspirasi
• Bunyi napas Auscultated
• Pencapaian yang diharapkan spirometer insentif
• Vital cavacity
• Saturasi oksigen
• Tes fungsi paru

7. Tanda-tanda vital
Defiition: sejauh mana suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah berada dalam kisaran normal

Indikator :

• Suhu tubuh
• Jantung apikal
• Apikal irama jantung
• Denyut nadi radial
• Status pernapasan
• Irama pernapasan
• Tekanan darah sistolik
• Tekanan darah diastolik
• Tekanan nadi
• Kedalaman inspirasi

8. Berat: massa tubuh
Definisi: sejauh mana berat badan otot dan lemak kongruen dengan bingkai hei jenis kelamin dan usia.
Indikator :

• Bobot
• Ketebalan lipatan kulit trisep
• Pinggang / pinggul lingkar rasio (manusia)
• Persentase lemak tubuh
• Lingkar kepala persentil (anak)
• Tinggi persentil (anak)
• Berat persentil (anak)




4) NIC
KELEBIHAN VOLUME CAIRAN
1. Elektrolit Manajemen
Kegiatan:
• Memonitor kadar elektrolit serum yang abnormal sebagai tersedia
• Monitor untuk manifestasi dari ketidakseimbangan elektrolit
• Berikan cairan, yang sesuai
• Menjaga akurasi catatan asupan dan keluaran
• Menjaga larutan yang mengandung elektrolit intravena pada laju aliran konstan sesuai
• Mendapatkan memerintahkan spesimen untuk analisis laboratorium kadar elektrolit (misalnya, ABG, urin, dan serum levels), yang sesuai
• Sediakan diet sesuai untuk pasien `s ketidakseimbangan elektrolit (mis., kalium-kaya, rendah sodium, dan karbohidrat rendah)
• Anjurkan pasien dan atau keluarganya pada modifikasi diet khusus, sesuai
• Ajarkan pasien dan keluarga tentang penyebab dan jenis pengobatan ketidakseimbangan elektrolit, sesuai
• Monitor pasien `s tanggapan terhadap terapi elektrolit diresepkan
• Memantau efek samping dari resep tambahan elektrolit (mis., GI iritasi)

2. Elektrolit Monitoring
Definisi: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengatur keseimbangan elektrolit
KEGIATAN:
• Memantau tingkat serum elektrolit
• Memantau albumin serum dan total protein level, seperti ditunjukkan
• Mengidentifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit
• Memonitor neurologis manifestasi dari ketidakseimbangan elektrolit (misalnya, diubah sensorium dan kelemahan)
• Memantau kecukupan ventilasi
• Monitor untuk mual, muntah, dan diare
• Memonitor penyakit medis yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit
• Monitor tanda-tanda / gejala disiorentation hiponatremia, otot twicthing, mual dan muntah, kram perut, sakit kepala, kejang, lesu dan penarikan diri, dan koma
• Monitor untuk tanda-tanda dan gejala ekstrem hypernatremia haus, kering, selaput lendir lengket, diubah mentation: dan kejang
• Monitor untuk tanda-tanda dan gejala hyperphosphatemia: takikardia, mual, diare, perut, kram, kelemahan otot, flaccid paralysis, dan peningkatan reflexses
• Mengajarkan pasien cara-cara untuk mencegah atau meminimalkan ketidakseimbangan elektrolit
3. Manajemen Cairan
Definisi: promosi keseimbangan cairan dan pencegahan komplikasi yang dihasilkan dari cairan yang tidak normal atau tidak dikehendaki tingkat
Kegiatan:
• Berat setiap hari dan memantau tren
• Count atau berat popok, sesuai
• Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensi cairan (egincreased gravitasi spesifik, peningkatan BUN, penurunan hematokrit, dan peningkatan tingkat osmolatily urin)
• Monitor tanda-tanda vital sesuai
• Monitor untuk indikasi kelebihan cairan / retensi
• memantau perubahan berat badan sebelum dan setelah dialisis jika diperlukan
• Menilai lokasi dan memperluas edema, jika ada
• Monitor status gizi
• Berikan cairan, yang sesuai
• Konsultasikan dengan dokter, jika tanda-tanda dan gejala dari kelebihan volume cairan menetap atau woesen


4. Pemantauan Cairan
Definisi: pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan
Kegiatan:
• Monitor berat
• Monitor asupan dan keluaran
• Memantau elektrolit serum dan urin nilai-nilai, yang sesuai
• Monitor tekanan darah, denyut jantung, dan status pernafasan
• monitor tekanan darah dan perubahan irama jantung, yang sesuai
• Monitor mocous membran, turgor kulit, dan haus
• Catatan kehadiran atau tidak adanya vertigo pada naik
5. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Definisi: pengumpulan dan analisis kardiovaskular pernapasan dan data suhu tubuh untuk menentukan dan mencegah komplikasi
Kegiatan:
• Monitor tekanan darah, denyut nadi, suhu, dan status repiratory sebagaimana mestinya
• Auscultate tekanan darah pada kedua lengan dan membandingkan, yang sesuai
• Monitor irama jantung dan laju
• Memantau frekuensi dan irama pernafasan (misalnya, kedalaman dan simetri)
• Monitor suara paru
• Memonitor pernapasan abnormal patterms (mis., Cheyne-stoke, kussmaul, Biot, apneustic, ataxic, repiration dan berlebihan mendesah)
• Monitor warna kulit, suhu, dan kelembaban
• Mengidentifikasi kemungkinan penyebab perubahan dalam tanda-tanda vital




6. Shock Pencegahan
Definisi: mendeteksi dan merawat pasien yang beresiko akan terjadinya guncangan
Kegiatan:
• Monitor untuk pemahaman, meningkatkan kecemasan dan perubahan status mental
• Monitor suhu dan status pernafasan
• Monitor asupan dan keluaran
• Monitor nilai laboratorium terutama Hgb dan tingkat HCT, penggumpalan profil, ABG dan tingkat elektrolit, budaya dan kimia profil
• Catatan jumlah dan frekuensi warna kotoran vomitus dan drainase nasogastric
• Monitor tanda-tanda / gejala asites
• Melakukan tes kulit untuk menentukan agen menyebabkan anafilaksis dan / atau reaksi alergi yang sesuai
• Anjurkan pasien dan / atau keluarganya pada faktor menimbulkan guncangan













BAB III
KESIMPULAN

Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.
















DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com.http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/17/implikasikeperawatan-atas-masalah-cairan-tubuh/
2. Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan (Edisi 3). Jakarta : EGC


Rabu, 12 Oktober 2011

kesehatan


Stroke Haemoragic
http://photos1.blogger.com/blogger/3730/2990/320/Stroke%20Haemoragic.jpg
A. Pengertian
Stroke secara umum merupakan defisit neurologis yang mempunyai serangan mendadak dan berlangsung 24 jam sebagai akibat dari terganggunya pembuluh darah otak (hudak dan Gallo, 1997)
Stroke digunakan untuk menamakan sindrome hemiparese atau hemiparalisis akibat lesi vascular, yang secara tiba tiba daerah otak tidak menerima darah karena arteri yang memperdarahi daerah tersebut tersumbat, putus atau pecah.
B. STROKE HAEMORAGIK
Adalah bagian dari klasifikasi stroke, dimana perdarahan intra cerebral dan mungkin perdarahan sub arachnoid yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu. Kejadian biasanya saat melakukan aktifitas, namun dapat juga saat istirahat dan kesadaran pasien umunya menurun.
C. PATOFISIOLOGI
D. FAKTOR RESIKO
Hipertensi, perokok, penyakit jantung terutama artrial fibrilasi, cerebral aneurisma, aterosclerosis, stroke sebelumnya atau TIA, Diabetes, Polisitemia, usila
E. GEJALA KLINIK
· mendadak, nyeri kepala
· Paraesthesia, paresis,Plegia sebagian badan
· Dysphagia
· Aphasia
· Gangguan penglihatan
· Perubahan kemampuan kognitif
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
· CT Scan : Haemoragi: sub dural, sub aracnoid, intra cerebral. Edema, Iskemia
· EEG : Mengidentifikasi area lesi dan gelombang listrik
· Angiografi : Haemoragi, obstruksi arteri, oklusi dan ruptur
· MRI : Infark, perdarahan, kelainan arteri venous
· Lumbal Punksi : Pada perdarahan Sub Arachnoid dan intra cerebral cairan cerebro spinal
mengandung darah
G. PENATALAKSANAAN
1. Phase Akut:
· Pertahankan fungsi vital: jalan nafas, pernafasan, oksigenisasi dan sirkulasi
· Reperfusi dengan trombolityk atau vasodilation: Nimotop
· Pencegahan peningkatan TIK
· Mengurangi edema cerebral dengan diuretik
2. Post phase akut
· Pencegahan spatik paralisis dengan antispasmodik
· Program fisiotherapi
· Penangan masalah psikososial
H. PENGKAJIAN KEPERAWATAN UTAMA
· Monitor tanda vital
· Monitor tingkat kesadaran
· Mengkaji fungsi eliminasi
· Mengkaji adanya gerakan involunter
· Mengkaji kemampuan ADLs
· Mengkaji kemampuan gerakan-otot
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
· Nyeri kepala b.d. gangguan vascular cerebral: perdarahan cerebral
· Gangguan perfuisi jaringan otak b.d edema cerebral
· Self care deficit b.d parsial paralisis
· Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik/motorik
· Konstipasi b.d. gangguan sensorik motorik
· Cemas b.d. kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya
· Resiko terjadi gangguan integritas kulit b.d bed rest yang lama






Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).
Fraktur adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat, pada arus mudik dan arus balik hari raya idulfitri tahun ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya Ia pergi ke dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.
  1. Complete fraktur (fraktur komplet), patah pada seluruh garis tengah tulang,luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
  2. Closed frakture (simple fracture), tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
  3. Open fracture (compound frakture / komplikata/ kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi:
    • Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm.
    • Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
    • Grade III: sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
  4. Greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
  5. Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang.
  6. Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
  7. Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
  8. Komunitif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
  9. Depresi, fraktur dengan frakmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
  10. Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
  11. Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor).
  12. Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya.
  13. Epifisial, fraktur melalui epifisis.
  14. Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
[sunting] Manifestasi klinis

Senin, 10 Oktober 2011

cara mensyukuri nikmat Alloh


A.    CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLOH
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.    Mensyukuri dengan hati, dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata :
·         Memanfaatkan dengan baik apa yang telah diberikan oleh Alloh SWT secara gratis kepada kita setiap hari, seperti udara, air, dan masih banyak lainnya.
·         Menjaga dan melestarikan apa yang sudah diberikan Alloh kepada kita.
2.    Mensyukuri dengan lisan, dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
3.    Mensyukuri dengan perbuatan di antaranya :
    1. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah wajib, sunnah maupun mubah :
·         Menunaikan shalat lima waktu tepat waktu.
·         Bersedekah jika memiliki rezeki lebih.
·         Berpuasa.
    1. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan Allah, baik larangan yang haram maupun yang makruh :
·         Jangan menghambur-hamburkan rezeki yang telah diberikan oleh Alloh SWT.
·         Jangan merusak apa yang ada dibumi yang telah diberikan oleh Alloh untuk dipergunakan oleh seluruh umat manusia.

definisi nyeri dan skala nyeri


A.    DEFINISI NYERI
Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E. ).
Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan – bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk). Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor C. dkk)
Ganong, (1998), mengemukakan proses penghantaran transmisi nyeri yang disalurkan ke susunan syaraf pusat oleh 2 (dua) sistem serat (serabut) antara lain:
1. Serabut A – delta (Aδ) Bermielin dengan garis tengah 2 – 5 (m yang menghantar dengan kecepatan 12 – 30 m/detik yang disebut juga nyeri cepat (test pain) dan dirasakan dalam waktu kurang dari satu detik, serta memiliki lokalisasi yang dijelas dirasakan seperti ditusuk, tajam berada dekat permukaan kulit.
2. Serabut C, merupakan serabut yang tidak bermielin dengan garis tengah 0,4 –1,2 m/detik disebut juga nyeri lambat di rasakan selama 1 (satu) detik atau lebih, bersifat nyeri tumpul, berdenyut atau terbakar.
Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan.
 Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Teori Specificity “suggest” menyatakan bahwa nyeri adalah sensori spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini didapat melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri di saraf nyeri perifer dan spesifik di spinal cord
.
B.     FISIOLOGI NYERI
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari komponen fisiologis berikut ini:
·      Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius àaktivitas elektrik reseptor terkait.
·      Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik antara thalamus dan cortex.
·       Modulasi yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri. Suatu jaras tertentu telah diteruskan di sistem saran pusat yang secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan oleh stress atau obat analgetika seperti morfin (Dewanto).
·      Persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas. bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga tidak terhindarkan keterbatasan untuk memahaminya. Ada dua jenis transmisi saraf :

1. Ionotropik dimana mediator bekerja langsung pada pintu ion ke dalam sel.
Ciri jenis transmisi itu adalah proses berlangsung cepat dan masa proses
Singkat.
2. Metabotropik dimana mediator bekerja lewat perubahan biokimia pada
membrane post-sinaps. Ciri transmisi cara ini adalah lambat dan berlangsung lama. Prostaglandin E 2 termasuk dalam golongan metabotropik; Hiperalgesia karena prostaglandin E 2 terjadi lambat tapi berlangsung lama. Morfin dan obat-opiat lainnya juga masuk golongan metabotropik, tetapi obat-obat ini menghambat hiperalgesia — bekerjanya juga lambat dan berlangsung lama. Trauma mekanik (dan juga trauma fisika dan kimia? ) rupa-rupanya langsung merusak integritas membran dan tergolong ionotropik , bersama bradykinin. Rasa nyeri timbul cepat dan berlangsung singkat, kecuali bila kerusakan yang ditimbulkannya hebat tentu rasa nyeri dapat berlangsung lama.
Klasifikasi nyeri ada 3 yaitu :
1.    Nyeri perifer ada 3 macam :
·           nyeri superficial
·           nyeri visceral
·           nyeri akut
2.    Nyeri Sentral : nyeri akibat stimulasi pada medula spinalis dan thalamus.
3.    Nyeri Psikogenetik : nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya.
C.    PENANGANAN NYERI
1.      MANEJEMEN NYERI NON FARMAKOLOGIK
a.       Dengan perilaku kognitif
Relaksasi
Relaksasi merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Latihan pernafasan dan teknik relaksasi menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, dan ketegangan otot, yang menghentikan siklus nyeri-ansietas-ketegangan otot (McCaffery, 1989).
Ada tiga hal utama yang diperlukan dalam relaksasi, yaitu : posisi yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (misal; bantal menyokong leher),
Pasien menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan merasakan dan merasakan betapa nyaman hal tersebut. Pasien bernapas beberapa kali dengan irama normal
. Pasien menarik napas dalam lagi dan menghembuskan pelan-pelan dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang kendor. Perawat minta pasien untuk mengkonsentrasikan pikiran pasien pada kakinya yang terasa ringan dan hangat. Pasien mengulang langkah ke-4 dan mengkonsentrasikan pikiran pada lengan perut, punggung dan kelompok otot-otot yang lain. Setelah pasien merasa rileks, pasien dianjurkan bernapas secara pelan-pelan. Bila nyeri menjadi hebat, pasien dapat bernapas dangkal dan cepat.
Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan beberapa keuntungan, antara lain :
1. Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan dengan nyeri atau stress
2. Menurunkan nyeri otot
3. Menolong individu untuk melupakan nyeri
4. Meningkatkan periode istirahat dan tidur
5. Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain
6. Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat nyeri

Distraksi
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan oleh klien). Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja (Tamsuri, 2007)
Jenis-jenis distraksi:
1.      Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat pemandangan dan gambar termasuk distraksi visua
2.      Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta gemercik air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti musik klasik, dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang, mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
3.      Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola pernafasan ritmik.Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan pernafasan ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase pada bagaian tubuh yang mengalami nyeri dengan melakukan pijatan atau gerakan memutar di area nyeri. Distraksi intelektualAntara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran (di tempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita.

D.    MENGKAJI SKALA NYERI
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri ad
alah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).
E.